Letting go.

Saya menulis post ini di ruang tunggu TK Santa Ursula Serpong. Hari ini adalah hari ke 2 Liam sekolah, dan keadaan sepertinya sedikit lebih berat dari hari kemarin.

Liam ada di TK B, artinya kami sebagai orang tua sudah tidak boleh menunggu di depan ruang kelas. Kami hanya boleh menunggu di ruang tunggu di bagian depan sekolah, dimana anak tidak bisa melihat orang tuanya. Setelah 30 menit bermain dengan riang, akhirnya dia masuk kelas. Dia masih menolak dengan keras, sampai akhirnya Mimi harus dengan tegas menitipkan dia di tangan gurunya. Selama 15 menit kami masih bisa mendengar dia meneriakan nama mamanya.

Mungkin bagi beberapa orang ini bukan masalah besar dan akan selesai dengan sendirinya setelah beberapa hari atau minggu, tapi bagi kami ini adalah masalah. Sebagai anak tunggal Liam sangat dekat dengan Mimi, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia mau. Sebagai anak tunggal, perhatian dan kasih sayang kami ke dia mungkin sedikit berlebih sehingga Liam menjadi sedikit manja dan keras kepala. Setiap kali dia menangis untuk sesuatu kami akan segera luluh dan menuruti keinginan dia. 2 tahun terakhir ini kami sudah belajar untuk lebih “tega” dalam menolak permintaan dia.

Sekarang kami sedang belajar untuk ” melepas” dia. Dimulai dari sekolah. Sepertinya ini lebih berat untuk saya dan Mimi dibanding untuk Liam. Semoga waktu akan berpihak kepada kami, dan semoga besok Liam akan menyadari bahwa ini semua untuk kebaikan dia

Letting go has never been easy, but holding on can be as difficult. Yet strength is measured not by holding on, but by letting go.

Tentang sekolah.

Dari Oktober 2012 saya dan istri sudah mulai berburu sekolah di Serpong untuk Liam. Kami mendatangi beberapa sekolah untuk mendapatkan informasi pendaftaran dan juga untuk lebih merasakan atmosfer sekolah sekolah tersebut. Kriteria paling penting buat kami memilih sekolah adalah lokasi yang tidak terlalu jauh dari rumah. Maksimal 15-20 menit berkendara.

Kriteria ke dua adalah reputasi sekolah. Rome wasn’t built in a day, dan sekolah yang bagus seharusnya begitu juga. Kualitas alumni bisa jadi salah satu indikator paling valid akan reputasi sekolah tersebut. Saya kurang sreg dengan sekolah yang sering beriklan bahwa ini lho alumni mereka diterima disini atau ini lho alumni mereka menang lomba ini. Semakin mereka berusaha “jualan” semakin malas saya menyekolahkan anak saya di sekolah mereka. Biarkan orang melihat dan menilai sendiri bagaimana sikap dan peran alumni sekolah itu di masyarakat. Iklan hanya menaikan penjualan, bukan reputasi. Continue reading