Toleransi.

Posted by on September 3, 2015

Kemarin saya membaca berita bahwa toko Ace Hardware dan Informa di Lombok melarang karyawatinya untuk berjilbab. Berita ini tentu membuat heboh sebagian orang dengan sebagian agenda. Alasan HAM dan kebebasan beragama langsung menyeruak mencari posisi sorot. Pihak provokator bersorak karena mendapatkan bahan baru. Kalau saya sendiri?

Menurut saya kesalahan terletak di dua belah pihak.

Perusahaan harusnya sudah dengan tegas menyatakan di berita lowongan pekerjaan mereka bahwa atribut keagamaan tidak boleh dipakai saat sedang bekerja. Entah itu Muslim, Kristiani, Budha atau Hindhu. Hal ini harus ditegaskan pula pada saat wawancara kerja dan calon karyawan/karyawati harus menandatangani lembar persetujuan. Sebaiknya dijelaskan juga apa saja yang tercakup dalam atribut keagamaan itu. Jika pekerja baru mengetahui adanya larangan ini setelah mereka masuk bekerja, hal ini akan dengan gampang menimbulkan isu SARA.

Calon karyawan/karyawati sebaiknya tidak memaksakan diri untuk melamar pekerjaan ke perusahaan yang sudah dengan tegas melarang penggunaan atribut keagamaan pada saat jam kerja. Harus diingat bahwa perusahaan tidak memaksa mereka untuk melamar kerja ke tempat mereka. Jika calon pekerja sudah tahu dari awal akan adanya larangan tersebut dan tetap memaksakan diri untuk melamar dan diterima, ya ikutilah aturan perusahaan tersebut. Jangan berusaha memaksa perusahaan untuk mengikuti kemauan mereka.

Janganlah hal ini dilihat sebagai perusahaan melanggar HAM pekerja atau sebagai serangan terhadap agama tertentu, toh dalam kasus ini perusahaan juga mengijinkan karyawan/karyawatinya untuk sholat kan?

Toleransi itu (harusnya) berlaku dua arah, bukan begitu teman?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *