Menu

kalipengging

on how life is

Tentang sekolah.

Dari Oktober 2012 saya dan istri sudah mulai berburu sekolah di Serpong untuk Liam. Kami mendatangi beberapa sekolah untuk mendapatkan informasi pendaftaran dan juga untuk lebih merasakan atmosfer sekolah sekolah tersebut. Kriteria paling penting buat kami memilih sekolah adalah lokasi yang tidak terlalu jauh dari rumah. Maksimal 15-20 menit berkendara.

Kriteria ke dua adalah reputasi sekolah. Rome wasn’t built in a day, dan sekolah yang bagus seharusnya begitu juga. Kualitas alumni bisa jadi salah satu indikator paling valid akan reputasi sekolah tersebut. Saya kurang sreg dengan sekolah yang sering beriklan bahwa ini lho alumni mereka diterima disini atau ini lho alumni mereka menang lomba ini. Semakin mereka berusaha “jualan” semakin malas saya menyekolahkan anak saya di sekolah mereka. Biarkan orang melihat dan menilai sendiri bagaimana sikap dan peran alumni sekolah itu di masyarakat. Iklan hanya menaikan penjualan, bukan reputasi.

Kriteria ke tiga adalah tenaga pengajarnya. Mungkin kuno, tapi saya merasa kalau empati dalam dunia mengajar gak akan bisa didapat dalam waktu singkat. Guru yang sudah mengajar lebih dari 10 tahun tentu “beda” dengan guru rookie. Gelar boleh sama, mungkin juga guru yang lebih muda lebih canggih dalam menggunakan sarana dan prasarana mengajar,tapi saya lebih suka guru yang berempati ke pembentukan karakter anak. Saya lebih suka guru yang ngemong daripada guru yang canggih:)

Kriteria keempat harusnya kurikulumnya. But I guess the word Curriculum is pretty fucked up here. Setahu saya ada kurikulum nasional, nasional plus, IB school dan Cambridge. Perbedaan antar kurikulum juga saya tidak tahu pasti. Sepengetahuan saya nasional dan nasional plus itu versi Depdikbud sedang IB School dan Cambridge pakai kurikulum berstandar global. IB School lebih ke activity based learning, sedang Cambridge lebih text book. Karena banyak aktifitas,sekolah IB jauh lebih mahal daripada sekolah dengan kurikulum Cambridge. Saya dengar info kalau uang sekolah Binus yang di Simprug (IB school) perbulannya bisa minimal Rp 5 juta sedangkan versi Cambridge nya (di Serpong) “hanya” Rp 1.3 juta.

Pilihan kami yang lokal lokal aja. Anti mainstream:)

Kami sepakat kalau TK dan SD itu bukan cari ilmu, melainkan pembelajaran untuk hidup bersosial dan pembentukan karakter. Kami akhirnya memutuskan untuk menitipkan Liam di sini, sekolah yang hijau dan banyak sekali pohon. Ada beberapa alasan kenapa kami memilih sekolah Santa Ursula:

  • Reputasi. Ursula ini bukan sekolah kemarin sore. Reputasi sekolah Ursula, Suster Francesco Marianti OSU dan kualitas alumni Ursula adalah alasan pertama kami memilih Ursula. They don’t need an award to boost their reputation.
  • Kurikulum. Kami memilih sekolah nasional supaya Liam lebih membumi dan lebih mencintai bahasa Indonesia. Kita lahir dan besar di Indonesia, dan untuk Indonesia lah seharusnya kita berkarya. We’re not against international curriculum or English language, hanya saja kami berpendapat akan lebih bagus jika Liam mengenal bahasa Indonesia sebelum dia belajar bahasa lain.
  • Pasar Modern. Haha, ini sebenarnya bonus saja. Sekolah Ursula ini bersebelahan dengan Pasar Modern BSD. Habis antar anak sekolah, istri bisa belanja kebutuhan sehari hari atau sekedar ngemil:)

Untuk informasi biaya tahun ajaran 2013:

  • Uang pangkal TB (taman bermain) 25 juta. Itu sudah mencakup TB, TK A dan TK B ( total 3 tahun)
  • Masuk TK A 15 juta. uang sekolah 1,3 juta
  • Masuk TK B 10 juta, uang sekolah 1,3 juta.
  • Masuk SD 25 juta, uang sekolah sekitar 1,1 juta (cmiiw)

sanur

Leave a Reply