Soul sucking city.

macetAwal puasa kemarin saya beserta keluarga liburan ke Batu dan Malang. Setiap kali habis berlibur ke kota kecil, pemikiran saya selalu sama : betapa enaknya hidup di kota kecil. Warga yang masih ramah, tidak ada macet, pergi kemana-mana dekat, biaya hidup masih murah, angka kriminalitas yang rendah dan juga kualitas udara yang tidak sepekat kota besar.

Cari uang itu tidak hanya di kota besar. Pendapatan besar di kota besar apakah selalu sebanding dengan kesehatan jiwa kita yang “memburuk” karena macet, polusi, banjir dan preman?

Mau coba kerja di kota besar boleh-boleh saja tetapi jangan lupa selalu berdoa agar kota besar tersebut tidak “menghisap” jiwa anda.

5 thoughts on “Soul sucking city.

  1. IMO, salah satu skenario terbaik saat ini adalah kerja dengan standar “Jakarta” dan hidup dengan standar “non-Jakarta”. Kalau “Jakarta”-nya bisa di scale up dan “non-Jakarta”-nya bisa di scale down, that’s the dream ????

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *