Sekolah berbasis agama,masih perlu?

Saat sedang blogwalking saya menemukan postingan ini, dan walaupun tidak terlalu mengejutkan, hal ini membuat saya jadi berpikir ulang dan mempertanyakan:

  • Yakinkah kita konsep “agama” diajarkan secara benar dan tidak menjadi fanatisme belaka?
  • Apakah “agama” masih menjadi kata kunci utama saat kita memilih sekolah untuk anak-anak kita?
  • Sekolah berbasis agama menjadikan anak-anak berakhlak kita lebih baik?

Silakan berbagi pendapat, apakah anda masih meletakkan agama di kriteria teratas dalam pencarian sekolah anak anda? Dan apa kriteria teratasnya jika hal tersebut bukanlah bukan agama?

15 thoughts on “Sekolah berbasis agama,masih perlu?

  1. perlu atau tidaknya sebenarnya kembali ke orang tua dan anak sih… mana yang ingin difokuskan. apakah pengetahuan agamanya atau pengetahuan lainnya. mungkin yang paling baik adalah jika keduanya seimbang ya

  2. Yakinkah kita konsep “agama” diajarkan secara benar dan tidak menjadi fanatisme belaka?
    Yakin, Pak. Tapi kembali lagi ke sekolah, sebab setiap sekolah memiliki lingkungan dan budaya yang berbeda.

    em>Apakah “agama” masih menjadi kata kunci utama saat kita memilih sekolah untuk anak-anak kita?</em?
    Saya sendiri iya. Paling tidak 9 tahun (SD dan SMP sederajat). Saya sendiri memiliki pengalaman demikian dan saya merasa cukup dengan ilmu agama yang saya dapat dan pertahankan mulai dari SMA hingga bekerja sekarang.

    Sekolah berbasis agama menjadikan anak-anak berakhlak kita lebih baik?
    Jawaban serupa dengan pertanyaan “Sekolah berbasis kurikulum terbaik menjadikan anak-anak berilmu lebih pintar dan cerdas?”, yakni belum tentu. Jelas tergantung dengan si anak dan orang tua bersangkutan.

    1. kata kuncinya adalah “tergantung” kan? Jadi seharusnya sekolah tidak menjadikan agama sebagai kata kunci pemasaran sekolah mereka:)

      1. Dua anak yang sedang bersekolah di sekolah berbasis agama dan tidak berbasis agama, dengan asumsi pada akhirnya kedua siswa tersebut memiliki tingkat akhlak yang sama, akan memiliki tingkat pengetahuan agama yang berbeda.

        Berdasarkan pengamatan saya terhadap teman-teman yang tidak memiliki pendidikan dasar agama yang cukup sebagai pondasi agama mereka, banyak sekali yang kurang menguasai nilai-nilai dasar agama.

        1. mungkin betul pak, walau tidak berlaku general,

          Di negara ini, menteri agamanya pun tersangkut kasus korupsi, begitu pula dengan ketua umum partai yg (mengaku) berbasis agama tertentu.

          Walaupun tragis, tapi rasanya pondasi agama saja tidak cukup untuk menjadi orang “bener”

          1. Saya pikir perlu diperjelas pandangan saya terhadap sekolah berbasis agama dan umum dari kacamata pengajaran dan pendidikan. Ketika pengajaran berfokus pada mata pengetahuan yang diberikan. Lalu pendidikan juga berfokus pada moralitas siswa.

            Sekolah berbasis agama memiliki poin yang lebih ketika dilihat dari sisi pengajaran. Jika dilihat dari sisi kacamata pendidikan, sekolah berbasis agama dan umum memiliki bobot yang sama.

            Jadi apakah sekolah berbasis agama tetap menjadi prioritas pilihan? Iya tentu

            Apakah siswa sekolah berbasis agama akan memiliki akhlak yang lebih baik? Tidak tentu. Karena menurut saya sekolah berbasis agama dan tidak memiliki porsi yang sama dalam memberikan pendidikan moral.

            Apakah berarti sekolah berbasis agama sama saja dengan sekolah umum? Tentu tidak. Sebab dalam kualitas akhlak yang sama, wawasan agama yang dimiliki kedua anak berbeda.

            1. Yang saya pertanyakan sebenarnya adalah, dengan banyaknya kasus dan konflik yang melibatkan agama di Indonesia ini, masih perlukah ada sekolah agama?

  3. Saya pikir penting Pak, terutama jika orang tua belum bisa memberikan teladan dan pengetahuan menyeluruh mengenai agama dan karena orang tua tidak bisa ada di sisi anak sepanjang waktu karena perlu bekerja. Bagaimanapun, saya pribadi percaya sekolah dimanapun, yang membentuk karakter anak ya orang tua – orang tua juga. At least, dalam kasus saya dan orang tua saya begitu.

    FYI: saya 6 tahun di pesantren, dari usia 11 – 17. Ayah saya pesantren juga selama enam tahun, punya gelar sarjana bahasa inggris, master pendidikan nilai dan doktoral pendidikan umum. Dan belajar dari ayah saya saja tetap tidak cukup, perlu ada “rangsangan” dari sekolah. Yang berbenturan-berbenturan itu saya tanyakan ke ayah saya 🙂

    Membaca blogpost yang di-link oleh Pak Agus, saya pribadi suka jengah jika ada yang mendikotomikan agama terbatas ke ritualnya saja. Nabi sendiri bilang (yang saya pelajari saat saya di pesantren, kalau saya tidak pesantren ya saya tidak akan pernah tau ini sepertinya) kalau dia diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Saya pribadi memandangnya jika ada sekolah yang bagus mengajarkan ritualnya tapi akhlaknya berantakan, ya berarti sekolahnya tidak “penuh” bagusnya, bukan hitam dan putih.

    Menanggapi pertanyaan yang diajukan Pak Agus, jawaban versi saya:

    > Yakinkah kita konsep “agama” diajarkan secara benar dan tidak menjadi fanatisme belaka?

    In my case, tergantung sekolahnya.

    > Apakah “agama” masih menjadi kata kunci utama saat kita memilih sekolah untuk anak-anak kita?

    Saya pribadi masih, selama konsep “agama”-nya tepat, bukan parsial. meskipun belum punya anak sih 😐

    > Sekolah berbasis agama menjadikan anak-anak berakhlak kita lebih baik?

    IMO akhlak baik mah lebih ke faktor orang tua. Sekolah memberikan rangsangan saja.

    ***

    Saya pikir issue yang lebih mendalam dalam konteks sekolah agama itu: Wali murid kerap mengharapkan siswa masuk ke sekolah dan keluar-keluar menjadi “manusia utuh”, seperti memasukkan bahan mentah ke pabrik dan keluar-keluar jadi produk jadi. Padahal kita semua tahu sekolah bukan pabrik dan siswa bukan bahan mentah. Faktornya banyak sekali dan melemparkan tanggung jawab 100% ke sekolah bukan solusi.

    Anak mah in most case (tentu ada rare case tentunya) bagaimana orang tuanya.

      1. Tergantung level-nya Pak: sekolah dasar, menengah, atau universitas. Saya belum mempertimbangkan lebih jauh (karena punya anak juga belum). Yang pasti, kalau punya anak nanti saya ingin mereka punya pengetahuan agama yang kokoh, bukan yang setengah-setengah, yang katanya-katanya, atau yang tanpa dasar agar bisa hidup berdampingan dengan baik tapi tidak melewati batas.

        1. Apakah (in general) orang tua suka berpendapat bahwa sekolah berbasis agama akan menjadikan anaknya lebih mengerti dan dekat dengan agama /Tuhan juga?

          Kalau aku pribadi kurang sependapat sih. Sekolah berbasis agama belum tentu menjadikan anak didik lebih “beragama” disaat konsep “beragama” sendiri belum terdefinisikan dengan baik:)

          Di jaman information overload ini, bibit SARA sangat mudah tumbuh. Ini yang sangat aku kuatirkan.

          1. Saya tidak tahu orang tua in general, yang saya tahu pandangan saya saja 🙂 IMO, pernyataan “in general” itu cenderung ke berasumsi dan menduga-duga sih. Kalau sudah menduga-duga dan berasumsi cenderung jadi subjektif. Kalau berdasarkan riset lain lagi.

            Kalau sepemahaman saya di agama Islam, konsep “beragama” itu jelas sekali: mengikuti akhlak / budi pekerti / contoh Nabi. Agar bisa mencontoh dengan baik, IMO perlu diberi exposure sebanyak-banyaknya. Salah satu cara memberi exposure yang banyak itu ya dimasukkan ke sekolah berbasis agama meskipun tidak ada yang bisa menjamin sekolah berbasis agama akan memberikan 100% exposure yang baik. Well setidaknya dicoba 🙂

            Hehe, wajar lah berbeda pendapat Pak, namanya juga hidup. No problemo 🙂

            > Di jaman information overload ini, bibit SARA sangat mudah tumbuh. Ini yang sangat aku kuatirkan.

            Ini saya sedih juga sebenarnya. Agama (in my case, Islam) menyeru untuk berbudi pekerti luhur dan cross check informasi, tapi pada mudah terprovokasi.

            1. Aku mengambil asumsi dari banyak blog lokal yang aku baca, saat memilih sekolah untuk anak, faktor agama pasti nomer satu. 8 dari 10 post nulis begitu, yang 2 itu biasanya faktor jarak dan faktor biaya:)

  4. awalnya saya tidak terlalu mikirin soal “agama” saat milih “sekolah” (or in my case: daycare). “sekolah” pertama nya yaitu wbs (wahana balita sehat) memang tidak berbasis agama. dan tanpa maksud rasis, di sana pengajar dan perawatnya memang beragama berbeda dari saya.
    sampai suatu saat, anak saya (umur 2 th) mengambil selimut, membungkus dirinya dan bilang mau sholat. baru deh saya sempet shock dengernya… sepertinya dia melihat miss miss nya melakukan itu.
    sekolah yg sekarang juga tidak berbasis agama tertentu, tetapi pengajar dan pengasuh nya beragama sama dgn saya. semoga aja membawa perubahan lebih baik … hehe :). Karena baru sekolah 1 bulan di tempat baru, saya belum tau nih apakah akan menjadikan lebih baik atau tidak.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *