Ambil rapor.

Tadi pagi saya beserta istri mengambil rapor Liam. Di SD Santa Ursula Serpong ini, jika wali kelas hendak membicarakan isu yang spesifik mengenai anak didik, orang tua mendapat undangan untuk mengambil rapor. Jika tidak ada, rapor cukup diberikan kepada anak didik. Kami mendapat undangan, berarti ada hal yang harus dibahas antara kami dan wali kelas. Selain kami, ada juga beberapa orang tua dari teman sekelas Liam yang diundang. Postingan ini tidak untuk membahas isi rapor Liam, tapi lebih ke bagaimana saya merasa rapor ini bisa menjadi hal yang negatif buat anak dan orang tua.

Begini asumsi saya:

  • Jika anda diundang wali kelas, berarti anak anda bermasalah dan peristiwa ambil rapor ini akan menjadi semacam walk of shame anda.
  • Jika isi rapor anak anda tidak bagus, berarti anda bermasalah dalam sistem anda mendidik anak.
  • Jika isi rapor anak anda tidak sebagus temannya, anda bisa menganggap anak anda tidak sepintar temannya.
  • Orang tua yang rapor anaknya bagus akan berkelompok dengan orang tua anak lain yang rapornya bagus. Begitu juga dengan anak yang rapornya jelek.
  • Anak yang isi rapornya jelek akan digembleng dengan berbagai macam les tambahan, sehingga hal ini akan mengurangi waktu bermain mereka.
  • Anak yang isi rapornya bagus akan digembleng dengan berbagai macam les tambahan untuk mempertahankan nilai-nilai mereka.

Jadi rapor bagus ataupun jelek, sama-sama ada konsekuensinya:)

Silakan berbagi, apakah anda (atau anak anda) merasakan tekanan saat akan mengambil rapor?

7 thoughts on “Ambil rapor.

  1. Ambil raport agak merepotkan untuk para pekerja kantoran. Sebetulnya kantor saya berada di BSD (sangat dekat dengan sekolah anak saya). Tetapi pada saat pengambilan raport akhir bulan kemarin, kebetulan saya harus meeting ke Jakarta. Ini berarti berangkat pagi dan pulang lebih malam daripada biasanya.
    1 hari sebelum hari H, saya sudah “janjian” dengan miss nya, kalau saya akan ambil raport sore hari. (seharusnya jadwal ambil raport jam 8-11). Tetapi apa daya, sampai jam 5 sore saya masih terperangkap meeting di Jakarta (yang masih berlanjut sampai jam 7 malam).
    Saya meminta suami untuk “mewakili” pengambilan raport, sehingga dia meninggalkan kantor teng go jam 5 di daerah Palmerah, naik kereta ke Rawa Buntu. dan sampailah di sekolah sekitar jam 6.30. Tetapi sekitar jam 6 sore, miss nya berangkat untuk menjenguk salah 1 staf yang sedang sakit di Eka Hospital, dan berjanji akan menemui suami saya jam 7 di sekolah. Suami saya terpaksa menunggu, karena sudah nanggung juga. Akhirnya baru bisa ambil raport di jam 7.30.
    Untung nya raport anak saya bagus…. jadi gak sia2 deh perjuangan ngambil raportnya.

  2. Dari dulu memang begitu Pak. Melatih mental ortunya juga. Tapi kalau soal mainnya jadi kepisah sih nggak ya. Kayaknya anak2 gak sampai begitu2 amat. Tau deh kalau sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *