Pelit itu pilihan.

Sama halnya dengan anda, saya adalah kelas menengah republik ini. Sebagai kelas menengah biasanya uang adalah masalah besar dalam hidup kita. Gaji yang rasanya ngepas dan dengan biaya hidup yang makin meningkat adalah masalah klasik dari hidup kita. Adakah yang bisa kita lakukan untuk memperingan masalah ini? Tentu ada, menjadi pelit adalah salah satu jawabannya.

Untuk sukses menjadi pelit, ini adalah mantra sakti yang harus anda resapi:

Bedakan biaya hidup dan gaya hidup

Menurut saya yang mahal itu gaya hidup, bukan biaya hidup. Gaya hidup itu keinginan sedangkan biaya hidup itu kebutuhan. Ini yang harus kita bedakan dari awal. Menjadi pelit adalah cara terbaik untuk menjauh dari jebakan gaya hidup, dan ini beberapa hal yang bisa anda lakukan ( beberapa hal sudah saya praktekan sendiri)

  1. Ganti telpon genggam anda setelah minimal 2 tahun, lebih lama lebih bagus. Kalau rusak, coba perbaiki dulu, jangan buru-buru beli baru.
  2. Beli telpon genggam yang sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginan apalagi gengsi.
  3. Cek harga secara online, sebelum anda membeli barang secara offline.
  4. Jangan pergi berlibur setiap kali ada long weekend. Percayalah anda tidak separah itu memerlukan liburan. Jika anda ternyata separah itu, coba pindah kerja.
  5. Kurangi pergi ke mal, apalagi jika alasan anda pergi ke mal hanya untuk ngadem atau cuci mata. Belanjalah secara online. Hal ini menghemat biaya BBM, parkir dan mengurangi pembelian barang yang tidak perlu.
  6. Makan dulu di rumah sebelum ke mal. Kalaupun harus makan di mal, bawa nasi putih dan air putih sendiri. Tidak perlu malu karena hal ini bisa menghemat sampai 20% dari total tagihan.
  7. Sering masak / makan di rumah.
  8. Menggunakan angkotan umum untuk pulang-pergi kantor.

Apakah anda ada ide tentang hal-hal pelit lainnya?

19 thoughts on “Pelit itu pilihan.

  1. Mas, gw masih dlm tahap bimbang, dulu susah jadi skrg pas kerja n dikasih suami baik hati dan suami secara ekonomi bagus, jadi balas dendam hahhaha beli ini itu tapi gw liat liat dulu, misal gw ngelayih diri sendiri utk do the first thing first, bole beli tas mahal saat uda masukin tabungan bulanan ke saham, bole beli karpet mahal saat uda ngasih perpuluhan dan bulanan ke orgtua, dll pokonya gw baru bole foya foya setelah first thing first gw itu jalan dulu heheheh sampe ke hal terkecil lho, misal gw latih diri gw utk ga beli starbucks kalo hari itu uda makan yg mahal, pokonya harus merasa cukup dgn apa yg kita punya dan berani berkata cukup sm diri sendiri 😉

  2. Ini artikel yang oke punya. Saya sebenarnya juga penganut hidup frugal kaya mas agus. Saya beli barang mahal hanya kalau itu alat produksi, atau baju bagus untuk acara-acara formal yang jumlahnya sangat sedikit.

    Kebiasaan frugal ini karena walaupun kakek nenek orang kaya, orang tua saya tidak dididik untuk buang-buang uang, terkesan pelit malah, kecuali untuk satu hal: pendidikan. Ya akhirnya menular ke saya, apalagi dulu orang tua pernah kena musibah yang bikin harta yang pernah dikumpulkan habis bis. Jadi yaaa… ga ada pilihan lain selain be frugal bin irit untuk bertahan hidup. Hasilnya ya alhamdulillah, cepat bangkit dari kebangkrutan.

    Sampai akhirnya saya punya pekerjaan kemudian berkeluarga, ya kok kebetulan dapet istri yang ga gaya hidupnya cocok. Diajak jalan bisa, diajak naik mercy ya hayuk. Naik sepur ekonomi bisa, naik garuda bisnis class ya bisa. Bahkan dia yang inisiatif untuk mengurangi biaya makanan dengan belajar masak (istri saya pas nikah ga bisa masak).

    Efek sampingnya, ya kalau orang-orang yang ga kenal secara dekat, taunya saya “miskin” apalagi orang-orang yang judgemental dari penampilan, ya maklum saya juga kurus LoL. Hal ini saya alami ketika berinteraksi dengan kolega di employer yang dahulu. Tapi bodo amat, mereka ga kasih makan saya ini. Jadi pengen ketemu dan sharing ama mas agus nih 😀

      1. Sebenarnya triknya mudah, penuhi ketiga ini dulu.

        – Sandang
        – Pangan
        – Papan

        Lalu kemudian identifikasi alat produksi vs konsumsi (hati-hati terjebak, mobil misalnya bisa produksi bisa konsumsi, komputer dan handphone mahal seperti iPhone dan Macbook, kalau bukan pengembang perangkat lunak kayaknya bukan alat produksi).

        Lalu pasang prioritas. Untuk alat produksi yg mahal dan kebutuhan dasar yang gede (misalnya rumah), sisihkan sebagian untuk DP, baru kemudian sisanya nyicil. Kenapa? karena alat produksi itu harus ada sekarang, kesempatan hanya datang sekali, alat produksi memang nilai intrinsiknya turun tapi nilai totalnya naik karena digunakan untuk mencari nafkah dan menabung memerlukan waktu, nanti malah hilang kesempatan karena takut utang/nyicil.

        Sementara kalau barang konsumsi, lebih baik ditunda, sampai kurang lebih costnya kurang dari 5% dari saving per bulan, lebih kecil lebih baik. Harga barang konsumsi selalu turun, ga usah terlalu kuatir, tar juga bakal kebeli. Oiya, buang itu gengsi, ga ada guna, think long term. Kayak mas agus ini, masukin anak ke sekolah mahal, karena pendidikan itu sangat penting.

        Lha ga menikmati hidup dong? Ga juga, ga harus sampai ekstrim pelit banget aka cheap. Pertanyaan di Quora ini tentang frugal vs cheap/pelit.

        Saya sendiri kadang masih kepleset ke keinginan, tapi dengan terbiasa thrifty, keplesetnya ga sampai kejungkir balik.

        Contoh kecil lain, punya CC dengan limit berapapun saya belum pernah kena bunga, over limit, dan denda keterlambatan. Ngapain saya kasih 75 ribu ke bank, mending buat biaya makan bisa untuk beberapa hari kalau masak.

    1. dapet istri yang sejalan dan supportive is one of the greatest give a man can have:)

      Btw dari dulu orang tua juga selalu bilang hanya pendidikanlah bekal yang eternal, couldn’t agree more.

      1. Betul sekali om agus. Pasangan saya ini wis cocok banget. Selalu cari sesuatu yang mahal dulu, terus turun sampai yang paling murah. Pilih-pilih-pilih, lalu cari yang worth for money, ga mesthi yang paling murah juga. Tapi efek sampingnya, tiap spend sesuatu jadi lama banget mikirnya hahaha.

        Pendidikan bener sekali sih, kerasa. The only girl that survived by herself in my her family is my mother, karena satu-satunya yang kuliah.

  3. Prinsip gw sekarang ini simply “live below my own means”. Tapi gw juga ga mau judgmental/nyinyir ama mereka yang memilih untuk punya gaya hidup mewah. Pelit itu pilihan sama dengan boros itu juga pilihan. Dulu gw rada boros dan gw tau dinyinyirin orang itu gak enak banget.

    Kalo mengenai gaya hidup, gw punya beberapa role model dari beberapa sepuh di keluarga gw. Ada yang memilih untuk hidup sehari2nya sederhana banget (mobil dari tahun 2000 ga ganti, HP biasa banget, baju ama tas biasa aja, jarang makan di mal apalagi coffee shop) padahal rumah, tanah, ruko, dan apartemennya di mana2. Mereka agak pelit ama diri sendiri, tapi sangat generous ama orang lain/sodara2nya/gereja/tetangganya. I wish when I grow older I can live my life that way. Kalo sekarang masih merintis jadi belom banyak duit, hahahah.

    1. Betul, boros dan pelit itu sama-sama pilihan. Masing-masing juga ada pembenarannya. Boros juga gak bisa disalahin karena mereka udah kerja keras dan mereka merasa berhak menikmatinya, gw dulu juga rada boros hehe

      Dulu sempet baca ” being rich is not about how much you have, but how much you give” rasanya langsung kesindir abis. Dulu kalau bisa beli barang yang diidamkan rasanya seneng banget. Makin kesini gw lebih seneng kalau duit gw bisa mendatangkan manfaat buat orang lain.

      Sekarang rasanya hidup lebih berarti kalau gw bisa melakukan sesuatu buat orang lain:)

      1. Banyak tuh dari Indomaret/ Alfamart, sampe beberapa kali aku tanyain kalau aku belanja pake recehan ampe 200rb bisa kan. Untungnya mereka bilang bisa:)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *