Hukuman Mati.

DrugsWarning

Jadi akhir-akhir ini sedang ramai pro dan kontra hukuman mati untuk terpidana kasus narkotika. Yang pro mendasarkan alasannya pada narkoba merusak generasi penerus bangsa, yang kontra mengatakan bahwa hanya Tuhan yang bisa menentukan hidup dan mati seseorang. Kedua belah pihak sama-sama mengajukan seribu alasan dan teori kenapa pilihan mereka benar.

Saya sendiri setuju hukuman mati untuk pengedar narkoba. Pengedar disini mencakup pembuat dan pengedar/kurir. Terlepas dari kondisi keuangan dan kesehatan jiwa mereka, menurut saya kurir juga adalah pelaku kejahatan narkoba.

Kenapa saya setuju?

  • Seperti halnya korupsi dan terorisme, narkotika adalah kejahatan serius karena imbasnya yang sangat masif dan merusak. Dalam menegakan hukuman tidak boleh ada celah sedikitpun yang bisa dimanfaatkan pengedar. Di negeri seperti Indonesia yang sangat menyukai standar ganda, ketegasan 100% adalah mutlak.
  • Hukuman mati ini sebagai early warning untuk siapapun yang mencoba masuk membawa narkoba ke Indonesia. Hal ini terbukti sudah berjalan dengan baik di Singapura dan Malaysia, kenapa kita tidak mengikutinya? Kita harus mengirimkan pesan yang jelas dan tegas kepada para pengedar narkoba yang mau menjadikan Indonesia sebagai pasar besar mereka.
  • Saya tidak percaya bahwa pengedar narkoba bisa dibina. Seperti halnya perjudian dan prostitusi, mengedarkan narkoba adalah kejahatan yang membuat kecanduan pelakunya karena besarnya uang yang dihasilkan dengan cara singkat dan gampang. Tentu akan ada yang berpendapat bahwa ada kok 1-2 orang bandar yang bertobat, tapi coba kita cek dulu berapa persentasenya?

Akan selalu ada keraguan apakah mereka menjalani persidangan dengan adil, apakah mereka sudah mendapatkan bantuan hukum yang semestinya, apakah hukuman mati ini melanggar HAM. Pertanyaan seperti ini biasanya mempunyai jawaban yang relatif dan tidak akan bisa memuaskan semua pihak.

Faktanya yang terjadi sekarang adalah bahaya narkoba yang bertambah besar tiap hari. Apakah kita akan menunggu adanya 1 sistem peradilan dan hukum yang bisa menanggulanginya?

Suara rakyat adalah suara Tuhan, dan sepertinya Tuhan menyetujui hukuman mati untuk para pengedar narkoba.

Anda setuju dengan hukuman mati untuk pengedar narkoba?

 

9 thoughts on “Hukuman Mati.

  1. Takdir itu tuhan yang nentuin kalo emang dia mati dengan cara dihukum mati,apa boleh buat?itu emang takdirnya,seharusnya masyarakat indonesia harus setuju dengan adanya hukum mati karena itu akan membuat bandar narkoba semakin berkurang dan generasi muda masa depan akan baik dan cerah tanpa narkoba.Dalam islam juga diharamkan mengkonsumsi dan Mengedarkan narkoba.(saya setuju dengan hukum mati di Indonesia)

  2. Saya tidak setuju sama sekali 🙂

    Bagi saya tak ada yang lebih berarti daripada nyawa seseorang… apalagi untuk menjadikannya sebagai alasan memberikan ‘early warning’… memberikan peringatan saja harus pakai tumbal? 🙂

    Kalau kamu tidak percaya pengedar narkoba tidak bisa dibina, kenapa harus menempatkan mereka di lapas? Kalau mereka tidak bisa dibina, harusnya justru mereka tidak dihukum sama sekali karena bukankah hukuman itu tujuannya membuat si pelaku jera dan tak mengulangi lagi perilakuknya di masa yang akan datang? Nah, kalau dibunuh, bagaimana ia bisa memiliki kesempatan untuk tak mengulangi lagi?

    Oh ya, alasan lain kenapa saya tidak setuju dengan hukuman mati bagi siapapun adalah karena sebagai orang Katholik, aku merasa harus nurut pada perintah dan ajaran magisterium gereja, seperti tertulis di sini: http://indonesia.ucanews.com/2015/04/27/kwi-hukum-untuk-melindungi-kehidupan-bukan-menghilangkan-kehidupan/

    :))

    1. Mungkin aku kurang pas nulisnya, bukannya tidak bisa dibina, tapi tidak mau dibina:)

      Kalau sudah ada faktor ekonomi / duit, segala bentuk aturan / pembinaan / hukuman pasti gak akan jalan dengan mulus. Mungkin hal ini gak hanya berlaku di Indonesia.

      Contoh gamblangnya gini, ada lapangan penuh orang yang sedang berbaris dengan rapi karena mereka sedang disuruh berbaris, terus tiba-tiba ada bergepok-gepok uang jatuh dari atas.

      Nah kira kira apakah yang akan terjadi? Mereka akan tetap di barisan, atau akan berhamburan mengambil uang yang jatuh dari langit tersebut?

      Kalau udah masalah perut, standard norms kadang gak berarti.

      Dalam masalah hukuman mati ini, ini adalah hukuman paling ekstrim yang bisa dilakukan, tujuannya adalah buat nakut2in orang, supaya mereka mikir apakah duit ini sebanding dengan potensi kehilangan nyawa?

      Kalau cuman ancaman penjara dan diceramahin apakah akan lebih efektif? Kalau kita berdua sama sama gak tahu jawabannya don, aku akan pilih hukuman mati:)

      1. Kamu mau nulis tidak bisa dibina atau tidak mau dibina, yang tanggung jawab tetap negara untuk membina 🙂

        Masalah perut membuat standard norm ga berarti? Ada yang salah dengan pola didik orang itu, makanya soal pendidikan juga perlu diperhatikan meski mungkin kalau diskusi soal ini jadi jauh dan luas banget cakupannya…

        Kembali ke soal hukuman mati, aku setuju banget bahwa ini adalah hukuman paling ekstrim yang bisa dilakukan, tapi persoalannya seekstrim apa keadaan hingga hukuman paling ekstrim harus dilakukan?

        Apa karena Jokowi bilang ada 18 ribu orang mati per tahun karena narkoba dan 50 orang per hari?

        Soal paragraf terakhirmu jelas aku menyangkal bahwa ancaman penjara tak efektif. Karena di sini, hal itu efektif.. tapi terlepas dari efektif atau tak efektifnya hal ini di Indonesia, hukuman mati tetaplah hukuman yang tak pro-life, sesuatu yang atas dasar apapun harusnya tidak dilakukan “:)

        Di sini kita berbeda, Gus 🙂

        1. Ya setuju, lain ladang lain belalang. Di sono efektif belum tentu disini efektif. Dan gak harus dipaksakan untuk berlalu universal kan Don? 🙂

          Menurutku yg terjadi sekarang adalah Indonesia ini adalah tempat yg nyaman untuk berbisnis narkoba. Sistem pendidikan dan hukum yang medioker, jumlah penduduk yang tinggi dan masyarakat yang permisif menjadikan Indonesia adalah surga narkoba. Banyaknya orang bodoh + narkoba, tidak akan membutuhkan waktu yg lama untuk menghancurkan suatu bangsa.

          Negara, dalam hal ini BNN tentunya tidak tinggal diam. Aku percaya mereka sedang bekerja keras menanggulanginya. Sayangnya saat ini sepertinya arus narkoba yang masuk makin deras dan ini belum bisa diimbangi oleh kinerja BNN dan Kepolisian. Untuk mengurangi laju arus ini, tentu banyak hal yg bisa dilakukan, salah satunya adalah hukuman mati sebagai hukuman yang paling ekstrim. Bukankah ketakutan adalah salah satu sumber motivasi terbesar? This bring a clear message, bawa narkoba ke Indonesia, nyawa taruhannya. Jika sudah tidak sayang nyawa, silakan saja dicoba:)

          Hukuman mati memang melanggar HAM, tapi menurutku itu boleh dilakukan for the sake of greater good. Seperti bayi yang harus diaborsi karena mengancam keselamatan ibunya. dan juga seperti Yesus yang membiarkan diriNya dihukum mati untuk menebus dosa manusia kan Don?:)

          Aku juga selalu percaya kalimat ini ” if you’re not part of the solution, then you’re part of the problem” Aku gak mau menambahkan problem pemerintah dengan kritik hukuman mati tanpa aku bisa memberikan solusi nyata, tidak hanya lewat QWERTY.

          Di sini kita (mungkin) beda Don:)

  3. Khusus untuk drug dealer saya setuju capital punishment. Kalau soal alasan mati jd ga di tangan Tuhan.. menurut saya tetap di tangan Tuhan. Krn kalau mereka mengikuti perintah Tuhan, nggak mungkin mereka jadi drug dealer. Mereka sendiri sudah tau konsekuensinya tp masih tetap dilakukan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *