Masih tentang “agama”

Dengan banyaknya kejahatan, konflik dan ancaman perpecahan bangsa yang melibatkan “agama”, masih bisakah kita berharap bahwa sekolah berbasis agama bisa mendidik anak-anak kita menjadiย warga negara yang lebih baik?

Jika mau diperluas, masih perlukah ada departemen agama di negara ini? Apakah kita masih perlu institusi di antara kita dan Tuhan?

13 thoughts on “Masih tentang “agama”

  1. hehe, threaded reply ada limitnya ternyata haha. Pasang Disqus aja? haha

    Iya Fik ,seiring waktu mungkin aku bisa berubah pandangan, mungkin kamu juga:)

  2. Kalau di agama yang saya anut (Islam) tentu masih Pak.

    Kecuali kalau mau all-out sekuler sih. Saya pribadi, berdasarkan hal-hal yang saya pelajari di sekolah agama, tidak pro sekuler. ๐Ÿ™‚

    Omong-omong, ini seminggu bisa berapa kali ganti theme Pak? XD

    Yang ini theme-nya oke banget sih ๐Ÿ˜€

    1. Dari dulu sebenernya aku mikir gak ada Departemen Agama pun harusnya bisa ok ok aja kok. Kalau namanya institusi gitu, yang dijalankan oleh manusia, biasanya rawan penyelewengan. Pun kalau ada penyelewenganpun gak banyak yang sadar/ berani melawan. Karena nanti akan diasosiasikan anti Tuhan.

      Gereja Katolik Roma dulu ada kasus penebusan dosa jadi barang jualan dan juga kasus pelecehan seksual, sampai Sri Paus nya sendiri harus meminta maaf ke publik.

      Masalahnya adalah manusia akan selalu dekat dengan dosa, bisakah kita memasrahkan hubungan kita dengan Tuhan ke tangan manusia?

      Konsep negara sekuler menarik banget sebenernya:)

      WP theme bisa ganti berkali kali dalam sebulan fik, tergantung ada yg bagus atau gak haha. Yg ini keren ya, scandinavian design rocks!

      1. Baru sempet bales lagi ini XD

        > …Kalau namanya institusi gitu, yang dijalankan oleh manusia, biasanya rawan penyelewengan…

        Kalau begini mah sekalian saja judulnya “negara, masih perlu?” ๐Ÿ˜€

        ***

        > .. bisakah kita memasrahkan hubungan kita dengan Tuhan ke tangan manusia?…

        Ini tergantung agamanya apa Pak. Kalau di agama yang saya anut (Islam) banyak perintah dan aturan agama yang hubungannya tidak sekedar hubungan antar manusia dengan Tuhan, namun juga antara manusia jadi ya butuh otoritas. Contoh:

        – Wali hakim untuk nikah, jika wali kandung sudah tidak ada
        – Mengurus pembagian zakat
        – Mengurusi urusan umat muslim seperti haji yang tidak bisa asal datang ke daerah tujuan, perlu ada koordinasi dengan otoritas setempat.

        ***

        > …Konsep negara sekuler menarik banget sebenernya:)..

        Ini juga tergantung viewpoint-nya sih IMO. CMIIW, dari sejarah yang saya pelajari di zaman pesantren dulu:

        – Islam mundur saat di-sekulerkan
        – Eropa “maju” saat di-sekulerkan

        Jadi ya tergantung viewpoint-nya ๐Ÿ™‚

        1. Dulu namanya manusia aja. Setelah ada ras, negara, agama dan partai politik, semuanya jadi makin dekat ke total chaos. We’re all waiting for that one ultimate purge button:)

          1. Saya rasa mengeneralisir ras, negara, agama, dan partai politik sebagai penyebab chaos itu tidak tepat Pak. Tanpa ras, negara, agama, dan partai politik pun jika culture-nya kacau, ya kacau saja. I think Lennon’s imagine is too naive.

            Well it’s okay to have different belief tho. ๐Ÿ™‚

            1. haha, apa ada faktor lain lagi selain 4 faktor itu? Personal demon? Apakah manusia itu terlahir jahat? 4 faktor dan kebudayaan itu kan semua bikinan manusia:)

                1. kalau dibilang ego, bukannya sangat luas dan menggeneralisir juga? Ego itu murni,diperburuk oleh perbedaan-perbedaan yang sengaja dibikin manusia itu sendiri. ya lewat negara, agama, ras dan parpol itu.Menurutku ya hehe

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *