Maafkan bahasa Inggris saya.

Posted by on August 13, 2014

Anak saya Liam sekarang kelas 1 di SD  yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Bahasa Inggris hanya diajarkan seminggu sekali. Di sekolah dan di rumah kami juga menggunakan bahasa Indonesia. Menurut anda apakah ada yang “salah” dari kondisi ini?

Jika anda berpendapat bahwa seharusnya anak saya ikut les Inggris mumpung masih muda, mungkin anda ada benarnya. Jika anda berpendapat bahwa saat paling tepat untuk belajar bahasa asing adalah sedini mungkin, bisa jadi anda benar.,

Kemarin ada diskusi menarik antara saya dan teman-teman lainnya sesama lulusan FKIP. Ada yang setuju jika pelajaran bahasa Inggris dihapus dari mata pelajaran SD, ada juga yang tidak setuju jika dihapus. Teman yang setuju umumnya berpendapat sama dengan apa yang saya tulis diatas. Teman yang tidak setuju umumnya berpendapat bahwa pembelajaran bahasa ke 2 ( atau mungkin ke 3) akan membuat anak stres dan akhirnya kemampuan berbahasanya tidak akan maksimal.

Kalau anda menanyakan pendapat saya, jawaban saya adalah saya lebih setuju bahasa Inggris diajarkan saat SMP. Kenapa? Ini beberapa alasan saya:

  • Secara pribadi saya ingin Liam bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Ini adalah salah satu alasan utama saya mendaftarkan Liam di Santa Ursula BSD. Mereka menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari. Saya percaya walaupun otak anak bisa menyerap pembelajaran bahasa dengan cepat, tentu akan lebih cepat lagi jika hanya ada satu bahasa yang dia pelajari. 
  • Belum meratanya penyebaran guru pengajar bahasa asing yang bagus, mungkin karena jumlah mereka juga masih terlalu sedikit dalam populasi. Juga belum adanya gol yang jelas dalam sistem pengajaran bahasa asing di Indonesia. Apakah untuk berkomunikasi aktif, untuk membaca, atau untuk menerjemahkan. Tiap gol tentu memerlukan kurikulum yang berbeda.
  • Manusia adalah mahluk multi lingual. Sebagai orang yang lahir dan besar di Jawa, minimal saya sudah terbiasa dengan 4 bahasa : Indonesia, Ngoko, Kromo dan Kromo Inggil.  Dari asumsi ini saya percaya kalau belajar bahasa asing juga bisa dilakukan saat anak-anak meninjak usia SMP.
  • Pembelajaran bahasa akan lebih mulus jika anak tidak merasa “terpaksa”. Jika ada film, lagu dan permainan yang mereka sukai dan berbahasa Inggris, mereka akan lebih antusias untuk mempelajarinya ketimbang dengan cara duduk manis di kelas:)

Sebelum sistem dan SDM yang lebih baik terjadi di sini, saya percaya akan lebih baik jika kita meminimalir potensi kerusakan berbahasa dengan tidak mengajarkan bahasa asing secara intensif di institusi sepenting SD. Saya lebih setuju jika pelajaran bahasa Inggris dimasukan dalam kegiatan extra kulikuler. Saat anak terlihat berminat untuk belajar bahasa baru ini, barulah kita fasilitasi minat mereka itu.

Saat melihat anak-anak lain seumuran Liam yang dengan lancar berbahasa Inggris, sebenarnya bukan hanya rasa kagum yang muncul dalam hati saya, ada juga sedikit rasa miris karena saya merasa nasionalisme mereka seperti teriris:)

Apakah anda punya pendapat lain?

Saat globalisasi makin meluas dan dunia makin mengerucut, pastikan kita bisa membela bahasa kita sendiri.

This article has 2 comments

  1. leonyhalim Reply

    Setuju. Hal ini pernah saya tulis beberapa tahun lalu, padahal saat itu saya belum nikah. Mirisnya lagi, banyak yang menomorduakan Bahasa Indonesia cuma supaya kelihatan ‘keren’ di luaran.

    Sampai saat ini saya ngajar anak saya nyanyi lagu2 bahasa Indonesia saja. Hehe. Bahkan sampai ABC pun yang dalam bahasa Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *