Menu

kalipengging

on how life is

Faktor keluarga dalam berbisnis.

Baru baru ini saya membaca artikel yang sangat mengena untuk saya sebagai pemilik bisnis. Artikel tersebut menjelaskan harga psikologis yang harus dibayar secara diam diam saat kita menjadi pebisnis. Ada yang mampu “membayar”, ada pula yang sampai bunuh diri karena tidak mampu ” membayar”. Artikel tersebut bisa dibaca di sini.

Saya pribadi pernah mengalami periode yang sangat sulit dalam berbisnis.

Keluar dari zona nyaman sebagai karyawan, saya mencoba peruntungan saya untuk berbisnis sendiri. Kemudian saya gagal. Mobil baru saya ( hasil dari kerja sebagai karyawan) harus dijual untuk menutupi hutang operasional bisnis. Sementara tagihan kartu kredit terus membumbung karena saya menggunakan dana kartu kredit tersebut untuk menutupi biaya hidup. Saat itu saya baru saja menikah.
Pada waktu itu saya malu untuk bercerita bahwa saya akan bangkrut. Saya juga tidak menceritakannya ke istri saya. Selain malu, saya juga tidak ingin membebani pikiran dia. Semuanya saya pendam sendiri. Hal tersebut mengakibatkan saya menjadi suami yang gampang marah dan kami sering bertengkar. Setiap malam saya juga susah tidur karena terlalu banyak memikirkan hutang kartu kredit saya.

Pada suatu malam saya duduk di luar kamar kos dan memikirkan tentang bisnis mencetak @kartunama yang baru seminggu saya jalankan. Kemudian istri saya menyusul dan kami berbincang. Saya jelaskan semua kesulitan saya dan harapan baru saya akan bisnis mencetak kartu nama ini. Saya utarakan ke dia bahwa saya yakin saya bisa menjual kartu nama, saya hanya perlu waktu untuk membuktikannya. Istri saya membesarkan hati saya, dia percaya bahwa saya akan sukses. Hal tersebut seperti mencabut beban yang selama ini menghimpit saya. Saya sangat terdorong dengan ucapan-ucapan dia yang menyejukan hati. Jika ada titik balik dalam bisnis saya, rasanya ini adalah titik balik yang sempurna buat saya.

Hari hari berikutnya adalah hari hari kerja keras. Saya bahkan mengedarkan sendiri brosur kartunama.net di jembatan halte bus sepanjang koridor 1 Transjakarta ( Kota – Blok M) Saya juga menyebarkan brosur di belakang wisma BNI 46 pada jam karyawan makan siang. Semua harus dilakukan sendiri karena adanya keterbatasan biaya operasional. Tapi saya melakukan semuanya dengan semangat. Tiap malam saya menceritakan hari saya ke istri saya. Berbulan-bulan kemudian hasilnya sudah terlihat, order sudah mulai masuk dan saya mampu mencicil pembayaran hutang – hutang. Waktunya pas, karena kemudian istri saya hamil:)

Dalam post ini, saya hanya mau mengingatkan kalau suami, istri atau anak adalah sumber kekuatan yang besar. Jangan lupakan mereka. Apapun hasil usaha anda, mereka akan selalu mencintai anda.

Comments

Mrs. Glory says:

Ya, dan silakan Anda harus cepat tentang hal itu, saya ingin hari ini menjadi hari Anda selamanya akan ingat pekerjaan yang baik dari perusahaan saya dan Anda akan memiliki setiap alasan untuk menjadi bahagia, saya meyakinkan Anda bahwa.

snydez says:

partner in life is _partner_ is business 🙂

Leave a Reply