Menu

kalipengging

on how life is

Calistung

Istri saya bercerita kalau ada sebagian teman di BBM Group nya sering “mengkritisi” kurikulum TK B dimana Liam dan anak anak mereka bersekolah. Mereka mengeluhkan kenapa anak anak mereka belum diajarin Calistung (baca, tulis, hitung), dan kenapa kegiatan sehari harinya lebih banyak bermain. Mereka kuatir selepas TK anak mereka belum bisa membaca, menulis dan berhitung.

Selama ini saya sering menangkap kesan bahwa ada sebagian orang tua merasa takut dan malu jika anaknya “tertinggal” dari anak lain. Telat jalan, telat ngomong, telat baca, telat nulis dan banyak telat telat lainnya. Karenanya mereka sering “memaksa” anaknya untuk mengejar ketertinggalan mereka. Caranya ya dengan banyak ikut terapi, les atau kursus.

Menurut saya, biarkan saja anak menikmati masa kecilnya tanpa perlu “diakslerasi” dengan berbagai macam les atau kursus. Jangan juga anak dipaksa belajar calistung sebelum waktunya. Di Belanda, belajar calistung dimulai di umur 6-7 tahun kalau gak salah.

Saya memilih TK Ursula ini karena saya suka bahwa mereka tidak mengajarkan calistung sejak TK. Bahwa mereka baru mengajarkan calistung di kelas 1 SD. Bahwa mereka tidak menyarankan anak ikut kursus/les tambahan jika sang anak tidak berminat. Bahwa mereka sangat memperhatikan pengembangan karakter di kurikulum mereka. Saya pribadi berpendapat bahwa TK dan SD adalah masa yang sangat penting untuk Liam. Masa dimana karakter dia akan terbentuk. Masa dimana dia akan membekali dirinya dengan kemampuan utama manusia yaitu bersosialisasi dan beradaptasi.

Saya percaya untuk seumuran Liam, bisa baca tulis dan hitung adalah prioritas nomer 2. Nomer 1 adalah pembentukan karakter, dan pembentukan karakter anak dimulai lewat permainan:)

Comments

masalahnya kalau di sekolah negeri sepertinya bisa calistung menjadi salah satu syarat untuk masuk SD… jadilah les calistung bertebaran dimana mana

Leave a Reply