Berdoalah dan bekerja.

Ora et Labora ( berdoalah dan bekerja) ini mungkin sering sekali kita dengar dan baca. Dan saya yakin di jaman yang semakin canggih ini makin sedikit orang yang melaksanakannya. Sampai beberapa waktu lalu, saya termasuk orang yang “melupakannya”.

Beberapa tahun terakhir ini saya memang seperti melupakan peran Tuhan dalam kehidupan saya. Saya bekerja dengan keras, bisnis berjalan dengan baik dan keluarga serta teman-teman kami juga diberikan kesehatan yang cukup. Life was good enough.

Beberapa tahun terakhir ini pula, tanpa saya sadari ada bibit-bibit kesombongan yang mulai tumbuh dalam diri saya. Saya mulai melupakan peran dan berkah Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Saya merasa apa yang saya dapatkan sekarang itu semua karena kerja keras saya dan tim. Saya beranggapan bahwa kerja keras dan kerja secara pintar itu akan menjadi amunisi yang cukup untuk menjalani bisnis sehari-hari.

Saya tidak pernah berdoa lagi dan saya tidak pernah ke gereja lagi. Bagi saya doa itu adalah hal yang kontradiktif dengan akal budi yang sudah saya dapatkan dari Tuhan. Kadang saya berpikiran lebih jauh dengan menganggap agama itu adalah candu. Agama akan mendorong saya untuk menjadi pemalas karena semuanya akan mengandalkan Tuhan pada akhirnya.

But I was wrong dan Tuhan selalu memiliki cara untuk menyadarkan kita.

Hal-hal yang yang tadinya berjalan dengan baik mulai mengalami guncangan. Semua solusi yang bisa saya pikirkan sudah saya kerjakan, tapi keadaan tidak kunjung membaik. Akhirnya akal dan rasio saya menyerah, berhenti dan memberikan ruang pada iman.

Disaat saya resah dan takut, ibu saya meminta saya untuk berdoa. Saya kembali teringat pada Tuhan. Saya kembali menyadari bahwa tidak semua hal di dunia dapat dijelaskan dengan akal dan rasio kita. Saya kembali menyertakan Tuhan dalam pekerjaan saya.

Ora et Labora adalah ungkapan rendah hati kita yang mau mengakui keterbatasan otak, tangan dan kaki kita. Bahwa selalu ada tangan-tangan misterius tidak terlihat yang selalu siap menolong kita saat rasio dan akal kita sudah menemui jalan buntu. Rendah hati dan pasrah kepada Tuhan adalah amunisi yang sangat ampuh untuk kita berbisnis dan dalam aspek hidup lainnya.

Poin paling penting yang saya pelajari adalah jangan melupakan Tuhan dalam hal apapun yang kita kerjakan. Kerjakan sebaik yang kita mampu dan jangan terlalu mencemaskan hasilnya. Rejeki itu semua sudah diatur oleh Tuhan. Rasa pasrah dan percaya jika Tuhan akan memberikan yang terbaik buat kita akan sangat membantu kita dalam hidup ini.

Begitu saya mulai berpasrah, beban yang ada dalam pikiran mulai terangkat. Saya kembali bisa berpikir jernih dan mood sudah mulai membaik. Saya percaya jika akal yang jernih dan hati yang gembira adalah bentuk pertolongan Tuhan kepada saya dan sebaiknya anda juga percaya itu:)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *