Bandung.

bdg

Kemarin saya sekeluarga sempat berlibur 4 hari di Bandung. Sebenarnya saya sedikit enggan untuk berlibur ke Bandung lagi, bagi saya Lembang jauh lebih menarik sebagai tempat liburan. Terakhir saya ke Bandung adalah tahun 2012.

Ada beberapa poin yang saya lihat dan rasakan selama liburan kali ini. Karena ini berdasarkan pengalaman saya, jadi sebaiknya jangan dianggap fakta:)

  • Saya berangkat dari BSD jam 5 pagi untuk menghindari macet. Perjalanan terbukti terbilang lancar, kami sampai di exit Moh Toha dalam 2 jam 45 menit, itu juga sudah mampir di Rest Area. Menurut saudara saya yang hampir 2 minggu sekali pulang Bandung, Sabtu pagi sebelum jam 6 adalah waktu terbaik untuk pergi ke Bandung ( Mungkin diluar masa libur Lebaran ya)
  • Saat siang hari Bandung sudah panas, hanya belum sepanas Jakarta. Sejuk (bukan dingin) hanya terasa pada malam hari.
  • Banyak jalan rusak di Bandung, terutama jalan -jalan di area pinggiran seperti Cibaduyut, Kopo dan sekitarnya. Mungkin karena gak terlalu banyak tempat tujuan turis, jadi pemerintah kotanya tidak terlalu (belum) peduli? Macet juga cenderung terjadi sepanjang hari di daerah pusat kota. Populasi motor di Bandung  dan tukang parkir liar juga sama banyaknya.
  • Koneksi data Telkomsel dah XL tidak terlalu bagus. Saya mencoba di area Dago, Astana Anyar, Cibaduyut, Kopo. Untuk daerah Cibaduyut, yang lumayan hanya SmartFren.
  • Kami mencoba banyak makanan baru yang kami belum pernah coba sebelumnya. Kebanyakan warung makan lokal di daerah Cibaduyut, Kopo dan sekitarnya seperti Bubur Iie Mekarwangi, sate Cilampeni dan Cia Mie Tulen. Tapi high light makanan kali ini adalah Bistik Astana, karena enak dan murah kami sampai 2 kali mengunjunginya. Lokasinya di pinggir jalan Astana Anyer. Buka mulai jam 6 sore. Makin malam makin ramai anak muda. Harga per porsi nasi bistik Rp 16.000. Cimol, cireng, cil0k, gehu adalah makanan gerobak yang sempat saya cicipin juga.
  • Kami belanja di Cibaduyut. Lumayan banyak juga barang berkualitas (rada) bagus dengan harga yang lumayan murah. Terutama sandal dan sepatu. Kami membeli sandal kulit untuk Liam hanya Rp 30.000.  Ada beberapa merek global seperti Nike, New Balance dan Adidas, tapi sepertinya itu barang palsu. Sepatu-sepatu tersebut dibuat industri rumahan dengan menggunakan beberapa bahan sisa pabrikan. Lebih baik tidak berharap banyak akan kualitasnya:)
  • Sempat ke Floating Market di Lembang, tidak terlalu jauh berbeda dengan de Ranch dan tidak ada hal baru yang ditawarkan juga. Yang menarik adalah membutuhkan waktu 2 jam untuk turun dari Lembang ke Pasir Kaliki dan hampir 1 jam lagi menuju daerah Mekarwangi/Cibaduyut. Kondisi jalan yang kebanyakan tidak begitu lebar dan banyaknya mobil plat D dan motor adalah penyumbang utama kemacetan kali ini. Belum lagi faktor banyaknya perempatan/pertigaan. Sepertinya warga Bandung harus mulai melupakan mitos bahwa mobil plat B lah yang membuat kota mereka semakin macet:)

Bandung memang masih (lumayan) menyenangkan untuk dikunjungi, hanya saja saya kuatir kalau 5 tahun lagi Bandung hanya akan menawarkan makanan dan kudapan ringan sebagai daya tarik utamanya. Bandung sudah macet dan panas, dan semakin banyaknya toko online akan menyebabkan orang enggan ke Bandung hanya untuk belanja pakaian.

 

4 thoughts on “Bandung.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *